Teologi Yang Benar: Perlu dan Lakukan

Baca: Markus 12:18-34

Orang Saduki adalah kelompok orang yang tidak mengakui ajaran tentang kebangkitan setelah kematian (Kisah Para Rasul 23:8). Sebenarnya, keyakinan tentang kebangkitan telah ada dalam Perjanjian Lama (Ayub 19:25-27; Yesaya 26:19; Mazmur 16:10; 71:19-20; Yehezkiel 37; Daniel 12:2; Hosea 6:1-2). Namun, karena mereka hanya mengakui kewibawaan lima Taurat Musa (Pentateukh), teologi mereka salah (tidak lengkap), sehingga kesimpulan mereka salah. 

Bertolak dari pertanyaan tentang tanggung jawab menghasilkan keturunan bagi saudara laki-laki yang telah mati, beberapa orang Saduki mempertanyakan siapa yang akan menjadi suami bagi istri yang telah dinikahi oleh tujuh orang bersaudara itu pada hari kebangkitan. Niat orang Saduki bukanlah mencari kebenaran, tetapi mencari kesalahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak mungkin membenarkan sesuatu yang salah, sehingga Ia dengan tegas mengatakan sampai dua kali bahwa mereka sesat (12:24, 27). Dia menegaskan adanya kebangkitan orang mati. Setelah orang-orang mati dibangkitkan, mereka tidak lagi kawin atau dikawinkan, tetapi hidup seperti malaikat di sorga. Karena tidak ada lagi hubungan perkawinan di sorga, pertanyaan orang Saduki itu menjadi tidak relevan.

Perhatikan bahwa ahli Taurat berbeda dengan orang Saduki. Walaupun motivasi si ahli Taurat tidak tulus (Matius 22:35), teologinya sepaham dengan Tuhan Yesus. Ia setuju bahwa hukum yang terutama ialah mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan; dan hukum yang kedua ialah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Oleh karena itu, Tuhan Yesus menyimpulkan, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” (12:29-34). Perkataan Tuhan Yesus ini seperti mau mengatakan, “Jangan cuma tahu, praktikkan juga!”

 Dosen saya—almarhum Pdt. Hidalgo Ban Garcia—pernah berkata, “Jangan pernah jadi orang yang malas secara intelektual.” Banyak orang enggan membaca buku teologi yang mereka anggap sebagai bacaan pendeta atau hamba Tuhan saja, padahal setiap orang bertanggung jawab untuk senantiasa belajar seumur hidup. Belajar teologi akan membuat kita meyakini bahwa ada Allah yang mengasihi kita dan menjadi dasar bagi kita untuk mengasihi sesama. Setelah tahu, pengetahuan itu harus kita praktikkan! [GI Mario Novanno]